REMAHAN RAMADHAN (1)

 


REMAHAN RAMADHAN (1)

 

Di suatu hari pertengahan Ramadhan lalu, bocah-bocah di lapangan depan Masjid asyik bermain. Sebagian ada yang berteduh dekat Kantor Sekretariat sambil bernyanyi-nyanyi. Capek bernyanyi, mereka mulai bertakbir. Lah, baru pertengahan Ramadhan udah takbiran aja!

Para Ulama memang melarang bertakbir seperti takbir hari raya saat Ramadhan belum penuh hitungan bulannya. Ini dikaitkan dengan penafsiran ayat 185 surat Al Baqarah. (“... Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”)

Para Ulama juga mengatakan, melakukan takbir hari raya sebelum penuh bilangan Ramadhan juga terhitung “tidak sopan”. Ramadhan itu Tamu Agung. Sudah lama ditunggu-ditunggu. Ramadhan sudah confirm akan tinggal sebulan penuh. Lah, belum sebulan kok sudah diramein kayak udah ganti bulan... Apa maksudnya ngusir Ramadhan?

Tapi... itu kan kelakuan bocah. Anak Kecil. Bisa jadi mereka belum tahu. Bisa jadi mereka belum paham. Bisa juga, karena namanya bocah, mereka ga peduli: yang penting rame! Yang penting senang!

Yang parah, kalau sifat-sifat anak kecil ini dilakukan oleh orang-orang tua yang (seharusnya) sudah dewasa dalam bertindak. Nyerobot antrean, buang sampah sembarangan – ga peduli aturan...

Lebih parah lagi kalo orang tua itu punya jabatan, punya kuasa, punya duit... Habis deh hutan digundulin, rampok, korupsi, hedon...

o0o

Selewat Ramadhan mestinya setiap kita jadi makin dewasa, makin ngerti dan taat aturan, makin rapi dan bersih,... Insya Allah bisa, sih. Cuma ga tahu selewat Ramadhan yang kapan...

 

/Tto


#RemahanRamadhan
#CeritaLucuIslami
#HumorIslami
#InspirasiIslami
#IslamdenganSenyuman
#KISAHLUCUISLAMI
#NgajiSantai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAK BAONG NGEMSI

SI AMAT BIANG KURAP

DARI RESAH KE RESAH