DARI GUNDAH MENJADI BUNGAH
Kegundahan menyelimuti seluruh kehidupan Nabi Ibrahim hari-hari itu. Betapa tidak. Anak semata wayang, pusat kecintaan-kebahagiaan hidupnya saat itu, diminta oleh Sang penguasa jagat untuk dikurbankan. Kegundahan terus mencengkeram jiwanya, namun Nabi Ibrahim akhirnya tiba pada sebuah Kesimpulan. Kesadaran akan ketaatan mendorongnya untuk mengambil langkah pasti: dia akan melakukannya! Maka didekatinya anak lelaki yang dicintainya sepenuh langit dan bumi. Secara penuh kehatia-hatian, dikabarkannya perintah teramat berat itu. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Ibrahim berkata: “… Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! …” Sebuah pertanyaan teramat berat telah disampaikan. Namun kegundahan tentu semakin berlipat ketika bertemu dengan ketidakpastian saat menantikan sebuah jawaban. Simaklah apa yang Al Qur’an beritakan tentang jawaban Nabi Ismail atas pertanyaan ayahnya yang tercinta: “… Wahai ayahku! Lakukanlah apa yan...