Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

DARI GUNDAH MENJADI BUNGAH

Kegundahan menyelimuti seluruh kehidupan Nabi Ibrahim hari-hari itu. Betapa tidak. Anak semata wayang, pusat kecintaan-kebahagiaan hidupnya saat itu, diminta oleh Sang penguasa jagat untuk dikurbankan. Kegundahan terus mencengkeram jiwanya, namun Nabi Ibrahim akhirnya tiba pada sebuah Kesimpulan. Kesadaran akan ketaatan mendorongnya untuk mengambil langkah pasti: dia akan melakukannya! Maka didekatinya anak lelaki yang dicintainya sepenuh langit dan bumi. Secara penuh kehatia-hatian, dikabarkannya perintah teramat berat itu. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Ibrahim berkata: “… Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! …” Sebuah pertanyaan teramat berat telah disampaikan. Namun kegundahan tentu semakin berlipat ketika bertemu dengan ketidakpastian saat menantikan sebuah jawaban. Simaklah apa yang Al Qur’an beritakan tentang jawaban Nabi Ismail atas pertanyaan ayahnya yang tercinta: “… Wahai ayahku! Lakukanlah apa yan...

DARI RESAH KE RESAH

Kubaca kembali kisah-kisah Imat dan Amat di blog, Postingan lawas dari beberapa tahun lalu. Mulanya aku tidak menyangka akan bisa menuliskan cerita ringan seperti. Tapi cukup puas juga membacanya di blog seperti ini. Dulu, aku menuliskan kisah itu berawal dari ketidakpuasanku terhadap narasi-narasi pengumpulan ziswaf. Narasinya kebanyakan senada-seirama. Aku ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak disangka-sangka. Makanya aku tuliskan kisah Imat-Amat. Meski tidak langsung merujuk pada proposal pengumpulan dana ziswaf, namun biasanya di ujung kisah, aku cantumkan nomor rekening LAZ. Barangkali saja ada yang terajak untuk berderma. Aku mendesah perlahan. Setahun belakangan ini aku merasa tidak lagi mampu menuliskan kisah-kisah seperti itu. Barangkali karena kisah semacam itu sudah terlalu biasa buatku. Sudah kurang daya tariknya. Jadi nampaknya sudah waktunya mulai menulis lagi. Barangkali dengan gaya yang berbeda, atau tokoh yang berbeda. Bismillah… Sebagian kisah Imat, Ama...

HAMPA

Layarku masih kosong. Sudah berjam-jam, tak satu kata pun berhasil kutuliskan. Bukannya tidak ada ide yang mencuat di kepalaku. Tapi tiap kali ada ide datang, dia langsung balik kanan pergi tanpa salam. Tak sempat kutangkap. Tak sempat kucatat. Sementara degup jantungku makin memburu. Detik-detik penyerahan tugas berlari mendekat. Dan layarku masih kosong. Sepertinya, ujian kali ini akan berakhir dengan kegagalan, seperti waktu-waktu yang lalu. Aku pun mendesah. Pasrah. Yaa Rabb, ampuni hamba yang belum mampu merangkai kata-merangkum makna, untuk mengagungkanMu…