TRAGEDI PAGI SI AMAT
Pagi itu seusai shalat Shubuh, Amat tidak bisa lanjut dengan kebiasaannya untuk tidur lagi. Para pengurus DKM dibantu beberapa Jemaah bebersih dan beberes musola dan sekitarnya sebagai persiapan lomba-lomba memperingati Hari Kemerdekaan RI. Amat dengan mata setengah terpejam terpaksa ikut berusaha membantu sedikit-sedikit.
“Am, ente
bantuin Imat ama Wak Baong beresin halaman, yak!” Perintah Haji Murat yang
menjadi komandan lapangan kegiatan. “Yang laennye tolong bantu beresin ama
bersihin ruangan dalam ame selasar musola.” Kata Haji Murat lagi.
Amat pun
mengambil sapu lidi bertangkai lalu mulai menyapu. Gerakannya lambat seperti
slow motion dalam film karena sebagian kesadarannya masih terpenggaruh rasa
kantuk. Wak Baong sudah siap untuk menghardik Amat. Tetapi Imat menjawil tangan
Wak Baong lalu berkata, “Wak, jangan digangguin. Soalnye jam segini Amat biase
tidur lagi.”
Wak Baong
mengurungkan niatnya menegur Amat. “Bukan ape-ape, Im. Wak takut entar die jato
nimpa pot. Kan kasihan potnye.” Kata Wak Baong. Imat nyengir mendengar candaan
Wak Baong.
Tapi…,
memang intuisi orangtua tidak bisa disepelekan. Tak lama setelah Wak Baong
berkata demikian, terdengar suara “Brug!” dan “Krak!” hamper bebarengan. Wak
Baong dan Imat segera menghampiri Amat yang tetaiba sudah dalam posisi duduk
menimpa sapu lidi yang sepertinya patah gagangnya. Haji Murat dan orang-orang
yang bekerja diruangan dalam musola juga ikut melongokkan kepala.
“Ente
kenape, Am?” Tanya Wak Baong sambil berjalan menghampiri Amat.
“Gak
ape-ape, Wak.” Jawab Amat sambil meringis kesakitan. Dia pun mencoba bangkit.
“Duhh..
Kasihan…” Kata Wak Baong. Lalu dia mengambil sapu lidi yang patah di Tengah gagangnya,
kemudian mengelus-elusnya seolah menghibur.
Amat kesal
melihat kelakuan Wak Baong, sementara Imat Cuma bisa nyengir tertahan.
Haji Murat
yang melihat kejadian itu, berteriak dari ruang dalam musola. “Ente kalo berasa
berat kerja di luar, mending di dalem sini aje, Am! Bantuin bersihin jendela,
nih.”
Amat pun
berjalan perlahan menuju ke ruang dalam musola. Sementara itu, Abi Ihsan yang
baru datang dari ruang wudhu sambil membawa seember air, kaget melihat Amat
hendak memasuki ruang dalam musola. Mulutnya setengah terbuka hendak berteriak.
Tangaannya melepas ember yang tadi dipegangnyalalu melambai ke arah Amat.
Tetapi
sebelum suara Abi Ihsan keluar, sudah terdengar lagi suara “Brug!”
Kali ini
semua orang bergegas mendatangi asal suara. Ternyata Amat jatuh lagi. Kali ini
di selasar musola. Abi Ihsan dengan berhati-hati berjalan mendekati Amat. “Aduh..!
Ati-ati jalannye, bro! Ubinnye licin. Tadi ane siram pake aer sabun. Maap, yak!”
Kata Abi Ihsan.
Wak Baong
dan beberapa Jemaah tersenyum-senyum mendengar kata-kata Abi Ihsan. Sementara Amat
sekarang benar-benar hilang kantuknya!
-o0o-
“(yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa
innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya
hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (Al Baqarah : 156)
-o0o-

Komentar