DARI GUNDAH MENJADI BUNGAH
Kegundahan menyelimuti seluruh kehidupan Nabi Ibrahim hari-hari itu. Betapa tidak. Anak semata wayang, pusat kecintaan-kebahagiaan hidupnya saat itu, diminta oleh Sang penguasa jagat untuk dikurbankan.
Kegundahan terus mencengkeram
jiwanya, namun Nabi Ibrahim akhirnya tiba pada sebuah Kesimpulan. Kesadaran akan
ketaatan mendorongnya untuk mengambil langkah pasti: dia akan melakukannya!
Maka didekatinya anak lelaki yang
dicintainya sepenuh langit dan bumi. Secara penuh kehatia-hatian, dikabarkannya
perintah teramat berat itu. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Ibrahim berkata: “…Wahai
anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
bagaimana pendapatmu! …”
Sebuah pertanyaan teramat berat
telah disampaikan. Namun kegundahan tentu semakin berlipat ketika bertemu
dengan ketidakpastian saat menantikan sebuah jawaban.
Simaklah apa yang Al Qur’an
beritakan tentang jawaban Nabi Ismail atas pertanyaan ayahnya yang tercinta: “…Wahai
ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya allah engkau
akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Jawaban ini tentunya seperti
segelas air yang diteguk di tengah gurun pasir di bawah terik sinar matahari.
Menyejukkan. Menyegarkan. Juga memberi warna kehidupan di atas ancaman
kematian.
Sayyid Quthb dalam Fii Zhilalil
Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ismail menyampaikan jawaban tersebut “…dalam
suara yang penuh cinta dan kedekatan. Penyembelihan dirinya itu tidak
membuatnya terkejut, takut, atau kehilangan kewarasan. Bahkan juga tidak
menghilangkan akhlak dan kasih sayangnya…”
Jawaban Nabi Ismail atas pertanyaan
ayahandanya tersebut juga secara sempurna menggambarkan salah satu wujud birrul
walidain dalam jawaban atas pertanyaan ayahnya ini. Dalam surat Al Isra
ayat 23 disebutkan bahwa salah satu bentuk bakti anak kepada orang tua adalah perkataan
yang mulia ( قَوۡلٗا كَرِيمٗا ), “…
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”, yang menurut
penafsiran Sayyid Quthb berarti “… ucapan sang anak kepada orang tuanya menunjukkan
sikap hormat dan cinta.”
Bahkan, perkataan Nabi Ismail itu
bukan sekedar perkataan yang mulia, namun juga perkataan yang memuliakan
ayahandanya. Perkataan Nabi Ismail mendorong dan mendukung Nabi Ibrahim untuk menjadi
makhlukNya yang mulia.
Jawaban Nabi Ismail, “…Lakukanlah
apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu…” menunjukkan bahwa beliau
sepenuhnya menginginkan ayahandanya menjadi hambaNya yang mulia, hamba yang mampu
mengemban misi utama dalam kehidupannya, sebagaimana firmanNya, “Dan aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS Adz Dzaariyat : 56).
Sungguh tak terbayangkan, betapa
bungah hati Nabi Ibrahim mendengar jawaban Nabi Ismail yang disampaikan dengan
penuh sopan santun itu. Bahkan tentunya lebih bungah lagi mendengar dukungan
sang anak terhadap tugas-tugas ayahandanya sebagai hamba dari Sang Pemilik dan
Pengatur Jagat. “…Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu…”,
seolah memesankan agar, “Jadilah ayahanda sebagai hambaNya yang taat
menjalankan segala perintahNya, menjauhi laranganNya, menjadi hambaNya yang
setia sepenuhnya”.
-o0o-
Kita tentunya mudah untuk relate
dengan kegundahan Nabi Ibrahim, terkait dengan kondisi kekinian dan masa depan
anak-anak kita. Tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan makanan-pakaian-tempat
tinggal yang layak tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan Pendidikan di
sekolah terbaik, tentang bagaimana penghidupan mereka nantinya. Semuanya nampak
mengkhawatirkan.
Namun, apakah kita bisa mudah relate
dengan kebungahan Nabi Ibrahim itu? Bungah yang timbul dari adanya
kepuasan-keridhoan melihat kondisi anak yang mapan dalam keimanan dan mampu
mengajak orang tuanya menuju kebaikan.
Perkataan-perkataan sederhana,
seperti, “Abi, ayo kita shalat di masjid!” atau, “Abi-Umi, besok kita puasa
sunnah, yuk” atau, “Abi-Umi, hari ini ngaji di mana?” Semua menunjukkan
dukungan anak agar kita menjadi hambaNya yang mulia.
Sungguh sangat bersyukur bila
kita memiliki anak yang demikian. Namun bila belum, apakah kita akan
berapologi: “Kami bukan Nabi Ibrahim, anak kami juga bukan Nabi Ismail?”
Apa yang disebutkan dalam Al Qur’an
adalah petunjuk, bukan pertunjukan. Jadi bisa dilaksanakan, bukan hanya khayalan.
Yang kita perlukan adalah usaha dan do’a. Biarlah Allah yang menentukan sampai
seberapa besar kebungahan kita nantinya.
Allahu musta’an.
Bekasi, 20240617
Toto Mulyoto (Abi Ihsan)
Komentar