Yang Tersisa Dari Piala Eropa 2008
Apa yang tersisa dari Piala Eropa 2008? Ngantuk, Tumpukan pekerjaan yang tertunda, rasa kesal karena tim jagoannya kalah, atau kegembiraan karena pundi pundi uangnya bertambah saat menang taruhan? Na’udzubillah!!
Sebagai muslim, seharusnya kita bias mengambil pelajaran dari fenomena ini. Ada beberapa hal yang bisa kita kaji.
Pertama, bahwa untuk mencapai gelar juara, Spanyol harus mengalahkan banyak tim favorit lainnya. Dan ini bukan merupakan perjuangan yang mudah. Bila kita refleksikan dalam kehidupan kita sehari hari, kita akan menemukan banyak kontras. Misalnya kita, atau sebagian dari kita, ingin menjadi kaya dengan cara yang cepat. Makanya perjudian (dalam segala bentunya, termasuk dalam bentuk sms) tetap marak. Undian berhadiah juga sering menjadi motivasi orang untuk memakai atau membeli suatu produk. Belum lagi praktek perdukunan (paranormal) yang menawarkan solusi instan atas pelbagai permasalahan manusia. Ini semua merupakan kontras dengan perjuangan Spanyol dalam meraih gelar juara sepakbola Eropa.
Semestinya, kita yang mencandu, atau setidaknya menyukai, tontonan bola ini dapat mengambil pelajaran bahwa perjuangan sebelum mencapai kemenangan adalah mutlak. Hal ini harusnya menjadi pelajaran dan membuat motivasi baru bagi kita untuk terus maju “bertanding” dengan segala kesulitan hidup untuk mencapai sukses.
Kedua, tidak selamanya perjuangan yang kita lakukan akan menuai hasil seperti yang kita harapkan. Kalau kita berkaca pada kegigihan Kroasia dan ketekunan serta kesungguhan Turki menapaki pertandingan demi pertandingan, kita akan melihat bahwa semangat mereka untuk terus bertanding tidak pernah redup. Meski mereka harus melawan tim unggulan. Meski mereka tahu bahwa di atas kertas kemungkinan mereka untuk menang sangatlah tipis. Meski mereka tahu bahwa musuh yang dihadapi kelasnya lebih tinggi. Mereka tidak menyerah sebelum bertanding. Mereka tetap semangat.
Bila saja kita bias mengambil pelajaran dari sana, bahwa dalam kondisi apa pun semangat untuk berjuang harus tetap menyala, maka dalam menghadapi kehidupan kita akan terus menjaga semangat agar tetap berkobar, meski kita tahu bahwa kehidupan makin sulit, bahwa tantangan makin banyak dan beragam serta ada kemungkinan bahwa kita akan kalah. Namun semangat yang terpelihara haruslah menjadi motor penggerak kita untuk terus bermain di lapangan perjuangan hidup.
Last but not least, tiap tim yang menang maupun yang kalah akan tetap menorehkan nama dan proses perjuangannya di dalam sejarah. Tak ada yang terlewat. Dan ini seharusnya menjadi titik awal pemikiran kita, bahwa meski kalah dan tak mendapat gelar juara, setidaknya sejarah telah mencatat bahwa kita telah bertanding. Kita telah berjuang dan kita telah berkarya, meski kita tidak meraih sukses seperti yang kita dambakan.
So, ini adalah pelajaran bahwa apa yang kita lakukan selalu tercatat. Maka tidakkah ini menjadi nasehat buat kita semua agar selalu berupaya melakukan yang terbaik ? Bahkan meskipun apa yang telah kita lakukan itu belum menghantar kita pada kemenangan? Kita seharusnya tetap berupaya menorehkan catatan terbaik kita sepanjang waktu. Siapa tahu, meski tim kita kalah, tapi nama kita tercatat sebagai ‘top scorer’ dalam berbuat kebaikan?
Bekasi, 2 Juli 2008 00:55
Sebagai muslim, seharusnya kita bias mengambil pelajaran dari fenomena ini. Ada beberapa hal yang bisa kita kaji.
Pertama, bahwa untuk mencapai gelar juara, Spanyol harus mengalahkan banyak tim favorit lainnya. Dan ini bukan merupakan perjuangan yang mudah. Bila kita refleksikan dalam kehidupan kita sehari hari, kita akan menemukan banyak kontras. Misalnya kita, atau sebagian dari kita, ingin menjadi kaya dengan cara yang cepat. Makanya perjudian (dalam segala bentunya, termasuk dalam bentuk sms) tetap marak. Undian berhadiah juga sering menjadi motivasi orang untuk memakai atau membeli suatu produk. Belum lagi praktek perdukunan (paranormal) yang menawarkan solusi instan atas pelbagai permasalahan manusia. Ini semua merupakan kontras dengan perjuangan Spanyol dalam meraih gelar juara sepakbola Eropa.
Semestinya, kita yang mencandu, atau setidaknya menyukai, tontonan bola ini dapat mengambil pelajaran bahwa perjuangan sebelum mencapai kemenangan adalah mutlak. Hal ini harusnya menjadi pelajaran dan membuat motivasi baru bagi kita untuk terus maju “bertanding” dengan segala kesulitan hidup untuk mencapai sukses.
Kedua, tidak selamanya perjuangan yang kita lakukan akan menuai hasil seperti yang kita harapkan. Kalau kita berkaca pada kegigihan Kroasia dan ketekunan serta kesungguhan Turki menapaki pertandingan demi pertandingan, kita akan melihat bahwa semangat mereka untuk terus bertanding tidak pernah redup. Meski mereka harus melawan tim unggulan. Meski mereka tahu bahwa di atas kertas kemungkinan mereka untuk menang sangatlah tipis. Meski mereka tahu bahwa musuh yang dihadapi kelasnya lebih tinggi. Mereka tidak menyerah sebelum bertanding. Mereka tetap semangat.
Bila saja kita bias mengambil pelajaran dari sana, bahwa dalam kondisi apa pun semangat untuk berjuang harus tetap menyala, maka dalam menghadapi kehidupan kita akan terus menjaga semangat agar tetap berkobar, meski kita tahu bahwa kehidupan makin sulit, bahwa tantangan makin banyak dan beragam serta ada kemungkinan bahwa kita akan kalah. Namun semangat yang terpelihara haruslah menjadi motor penggerak kita untuk terus bermain di lapangan perjuangan hidup.
Last but not least, tiap tim yang menang maupun yang kalah akan tetap menorehkan nama dan proses perjuangannya di dalam sejarah. Tak ada yang terlewat. Dan ini seharusnya menjadi titik awal pemikiran kita, bahwa meski kalah dan tak mendapat gelar juara, setidaknya sejarah telah mencatat bahwa kita telah bertanding. Kita telah berjuang dan kita telah berkarya, meski kita tidak meraih sukses seperti yang kita dambakan.
So, ini adalah pelajaran bahwa apa yang kita lakukan selalu tercatat. Maka tidakkah ini menjadi nasehat buat kita semua agar selalu berupaya melakukan yang terbaik ? Bahkan meskipun apa yang telah kita lakukan itu belum menghantar kita pada kemenangan? Kita seharusnya tetap berupaya menorehkan catatan terbaik kita sepanjang waktu. Siapa tahu, meski tim kita kalah, tapi nama kita tercatat sebagai ‘top scorer’ dalam berbuat kebaikan?
Bekasi, 2 Juli 2008 00:55
Komentar